Jumat, 30 Oktober 2015

CopyWriter vs ArtDirector


gambar by: http://www.designbolts.com/2013/09/19/copywriters-vs-art-directors-a-tale-of-two-gurus/


Ini terjadi ketika berada di ruang kerja yang bernama Advertising, dua orang kreatif yang bekerjasama untuk menghasilkan karya yang kreatif. Keduanya memiliki tugas yang berbeda, namun memiliki visi misi yang sama. Jadi kelemahan yang ada pada masing-masing adalah kekuatan yang biasanya mereka saling lengkapi. 

Yang satunya hobi nulis dan yang satunya cinta banget sama menggambar. Jika keduanya bergabung, wah dahsyat banget bisa menghasilkan apa yang tidak pernah dipikirkan banyak orang. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda, bahkan bisa dituliskan dan digambarkan dengan simbol-simbol yang sederhana.

Jadi menulis dan menggambar itu adalah hobi yang menyenangkan, keduanya sama-sama menyenangkan. sama-sama memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi peminatnya. Selamat menulis dan menggambar. 

Belajar Dari Artikel Web Lain

Siang ini panasnya menginspirasi diiringi musik lantunan piano dan seruling. Aku duduk menunggu ada keajaiban datang hari ini. Seperti biasa mata memandangi laptop penuh harap ada kabar baik dari siapapun itu. Dan itu benar-bena datang, ya…bagiku ini kabar baik, ketika menemukan alamat website yang mengulas banyak mengenai desain komunikasi visual.


Kadang sebagai seorang desainer komvis yang baru mengawali karir, banyak membutuhkan asupan gizi dalam vitamin ide yang penuh nutrisi. Seperti saya pernah mengobrol dengan dosen DKV saya waktu di Jogja atau saya sering menyebutnya “Guru Semiotika Visual”, beliau selalu memberikan saya dorongan untuk berbuatlah minimal yang berguna bagi masyarakat, atau paling tidak pada keluargamu, atau setidak-tidaknya pada dirimu sendiri. Selalu asah kemampuan desain komvis, melalui berkarya, membaca, sharing, kompetisi, menulis, melihat disekitar, dll. Karena ruang desain komvis sangat luas tanpa batas namun memiliki batasan-batasan etika terhadap kehidupan sosial dan alam.


Kemudian setelah tersadar dalam ruang kerja, saya ingin berbagi pengalaman setidak-tidaknya berusaha berbagi walau sedikit dan kecil. Desain kadang diremehkan, kadang pelakunya dipermainkan, ya inilah kenyataan sebagai seorang desainer. Semua pengalaman bukan untuk disesali atau malah ketakutan dengan yang sudah terjadi. Belajar dari pengalaman itu menyenangkan, akan banyak hal baru yang ditemukan dalam menyelesaikannya. Karena desain itu sendiri adalah penyelesaian, maka selesaikanlah.

Senin, 31 Agustus 2015

Brand Sebelum Branding #2


salam…semoga semua dalam keadaan sehat, dengan tubuh yang sehat tentunya pikiran menjadi sehat dan lebih kreatif.
Pagi ini, senin (I love Monday) 31 Agustus 2015 mengakhiri bulan semangat kemerdekaan dan tetap semangat untuk hari-hari yang lebih menyenangkan. Dalam tulisan “Brand Sebelum Branding” banyak hal kekurangan dan apabila ada yang ingin menambahkan, silahkan memperbaharuinya. Dengan metode share dan saling melengkapi semoga dapat berguna bagi yang membutuhkan.

Kali ini mengulas mengenai kelanjutan dari tulisan “Brand Sebelum Branding”, jadi saya beri judul “Brand Sebelum Branding #2”. Tulisan ini bukan hasil penelitian, namun pengamatan sehari-hari yang diramu dalam obrolan-obrolan dengan pemilik usaha-usaha yang sudah dan yang baru mengawali karir. Bahasa yang tidak terlalu formal, mungkin sedikit menyulitkan memahaminya dan pembaca bisa berdiskusi dalam kolom coment.

Brand yang diibaratkan seperti pohon dan pemilik brand diibaratkan seperti petani yang merawat pohon itu. Jadi begini, pohon dipakai karena jenisnya dan kegunaannya yang berbeda-beda dan banyak sekali. Ada yang berbunga indah dan harum, berbuah manis lebat, berbatang kuat, berumbi dan berakar mujarab. Contoh: pohon mangga ditanam karena buahnya yang dinikmati, pohon jati ditanam karena kayunya yang kuat, ketela dengan umbi yang gurih, ginseng memiliki akar yang berkhasiat, dll.



Jadi begitu juga dalam merencanakan brand, visi dan misi dari badan, produk dan sebagainya harus memiliki mimpi dengan tujuan yang jelas, sehingga dapat merencanakan bagaimana mewujudkan mimpi dan tujuan dari brand tersebut. Dalam proses perancangan brand pada umumnya terdapat 2 elemen yang harus bersinergi, yaitu: elemen yang dapat dilihat kasat mata (visual) dan elemen yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata (konsep, strategi yang menjadi roh/jiwa).

Pada brand yang terlihat manis secara kasat mata, akan memberikan dampak yang baik kedepannya dengan memberikan kejujuran rasa manis pada produk. Begitu juga sebaliknya, ini yang sering menjadi pekerjaan rumah para desainer pemula (termasuk saya). Sejatinya bagus itu belum cukup, namun harus integrated dalam segala aspek.

Seperti halnya mangga yang mampu membranding diri menjadi mangga yang disukai banyak orang, yaitu mangga Manalagi. Rasa dan penampilannya dapat bekerja dengan baik, sehingga dampak yang diberikan kepada pemiliknya sangat memuaskan. Mangga Manalagi memiliki ukuran yang besar, bersih, warna bagus, beraroma, dan manis. Ini salah satu brand yang berhasil dengan sempurna disepanjang zaman.

Tetapi harus dilihat juga dari letak geografis dan psikologis dimana brand itu mau dibesarkan. Kadang salah paham sering terjadi, seperti contoh: petani buah yang memiliki tujuan untuk mendapatkan hasil kayu yang baik. Bisa saja berhasil, namun terkadang salah paham pengetahuan menyebabkan kegagalan karena pengalaman yang berbeda. Biasanya memanen buah, tapi punya mimpi memanen kayu. Hal ini yang sering menyebabkan brand itu kehilangan jatidiri. Ketika jatidiri brand yang tidak jelas mau kemana, maka untuk tampil dengan visual yang memukau menjadi rancu. Menjadi lemah dan menyebabkan ketidakjujuran brand.

Trus…bagaimana menjadi brand yang jujur?
Ini menjadi pekerjaan rumah buat yang baru memulai membangun brand (termasuk saya). Pengetahuan dasarnya bisa saja sama, namun saya yakin masing2 pemilik brand punya ramuan yang mujarab. Karena, beda produk beda konsumen, beda waktu, beda juga cara penyampaiannya.




Sabtu, 29 Agustus 2015

Brand Sebelum Branding





Obrolan ringan yang berarkhir serius, dan ditulis dalam cerita sederhana. Brand memang sangat asyik dibicarakan dengan pemula-pemula yang membangun impian. Mengulas brand dari berbagai sudut pandang yang teoritis sampai pada yang bisa ditemukan dilapangan. Kadang harus mulai dengan memperdebatkan bukti dan usaha yang dapat dilakukan secara nyata. Karena brand bukan sekedar tampil beda.

Dari beberapa obrolan yang saya ingat, mengenai brand itu saya analogikan sebagai Tumbuhan (Pohon) yang memiliki cerita panjang dalam hidupnya. Ambil saja contoh Pohon Mangga. Saya tidak pernah tau pasti kalau pohon itu tidak berbuah, dan saya tidak berani bilang kalau itu buahnya manis sebelum membuktikannya.

Pohon Mangga (Brand) yang ditanam Paman (Pemilik) akan berbuah lebat dan manis itu tergantung pemeliharaannya. Bibit tumbuhan Mangga yang ditanam dirawat dengan cinta. Dengan perasaan senang setiap hari, sampai tumbuh besar. Menyiram setiap hari, memupuk pada saat yang tepat, memangkas yang tidak diperlukan, dan mempelajari semua aspek untuk menghasilkan buah yang manis.

Ketika pohon sudah berbuah, Paman tidak lantas menjadi puas. Buah mangga yang matang dibagikan ketetangga-tetangganya. Alhasil semua tetangga sangat senang, karena selain keramahannya Paman dipuji karena hasil panen mangganya yang manis.

Dari cerita singkat nan sederhana, dapat disimpulkan bahwa Brand bukan cuma soal penampilan namun lebih pada apa yang ingin ditampilkan. Bukan berarti penampilan itu tidak perlu diperhatikan, malah harus bersinergi antara elemen yang satu dengan yang lainnya. Untuk menghasilkan bentuk yang harmonis antara apa yang dapat dilihat dengan kasat mata dan yang tidak dapat dilihat dengan kasatmata. Seperti, rasa, bau, pendengaran, raba yang dapat disimpulkan dalam Panca Indra.

Memiliki brand impian dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dimanapun. Brand itu lahir, hidup, bahkan bisa mati juga seperti mahluk hidup. Namun brand akan hidup abadi dalam jiwa yang dirawat dengan baik.



oleh : Pageh Putu

Rabu, 12 Agustus 2015

Jalan-jalan yang Menginspirasi



Duduk didepan komputer seharian kadang menjenuhkan. Memaksa ide keluar, tapi kita hanya duduk didalam ruang kerja. Kadang-kadang ini seperti penyiksaan, hal hanya karena menghemat waktu. Tapi tidak seperti itu sesungguhnya yang terjadi malah membuang waktu memandangi komputer seharian. Mencoba keluar dari ruangan sembari makan diluar mungkin lebih menyenangkan.


Menikmati gambar-gambar yang kreatif dijalan menimbulkan pancingan keluarnya ide-ide baru. Kumpulkan saja dulu dalam catatan kecil yang bisa dibawa kemana-mana, atau foto dengan kamera ponsel. Gambar diatas adalah toko yang mencuri pandangan saya ketika melewati jalan diseputaran Seminyak Kuta. Asyik dan membuat tersenyum :)
Warna dan penyusunan bidang yang sederhana namun harmonis. Ide yang cemerlang ketika toko itu dicat warna-warni. Ini proses branding yang ramah lingkungan. Foto billboard hitam dan ilustrasi putih juga berhasil menarik perhatian saya, karena beberapa ruas disepanjang itu ada visual yang konsisten dengan perwajahan ini. Walau ini nampak kontras dengan arsitektur disekitarnya, saya tertarik dari sudut pandang visual yang ditampilkan. Tokoh Wayang Hanoman bergaya Bali tampil unik dengan papan surfing. Simple dan langsung bisa dicerna maksud pesan yang disampaikan.



Sempat juga berhenti oleh papan nama sebuah cafe yang unik, namanya aja unik. Pertama saya kira ini tukang tambal ban, eh ternyata idenya keren juga. Finishingnya sederhana dan perpaduan unsur elemen yang pas. Jalan-jalan yang menginspirasi, walau cuma keliling diwilayah sekitar studio kerja, kalau kita bisa mengubah sudut pandang yang lain mungkin ini sangat menyenangkan bagi yang bekerja dibidang art & creative design.






Senin, 10 Agustus 2015

Desain Butuh Kerja Sama


Dalam tulisan ini saya menceritakan pengalaman menyelesaikan project Desain Komunikasi Visual. Setiap project yang berbeda tentunya membutuhkan proses penyelesaian yang berbeda. Mungkin disebabkan karena beda klien, beda partner, beda media, dan lain sebagainya. Tetapi semuanya memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu bekerja sama.

Seperti ketika mengerjakan project brosur dalam format buku, ada beberapa hal tahapan yang harus dilalui. Pertama membicarakan secara keseluruhan konsep project bersama klien, mulai dari tampilan cover, layout isi sampai pada jenis kertas yang akan dipakai. Setelah desain kasar berupa sketsa layout selesai, mulai membicarakan isi brosur, seperti tampilan foto, teks, lipatan, ilustrasi, warna, dan layout. Konsep desain awal yang sudah diacc menjadi acuan untuk pemotretan. Pada bagian ini kerjasama dengan fotografer ahli sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dan pas. Hal ini berhubungan dengan keahlian dan kelengkapan alat. Walau tidak jarang pekerjaan ini sering dirangkap 1 orang. Dengan hasil foto yang sesuai dengan konsep yang telah dibicarakan diawal, maka tahap mendesain menjadi lebih mudah untuk membentuk kesatuan disetiap elemen dalam desain komunikasi visual. Untuk menampilkan desain final yang tidak hanya menyenangkan klien, tapi lebih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka proses evaluasi dan revisi harus dilakukan sebelum ke tahap cetak. Diproses diskusi ini menjadi menarik ketika kedua belah pihak menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai harus sesuai dengan konsep yang telah dibicarakan diawal, agar tidak terjadi tumpang tindih antara pemilik dan desainer yang nantinya mempengaruhi hasil akhir dari karya desain. 

Maka, desain menjadi lebih menarik ketika proses pengerjaannya dilakukan melalui kerjasama yang baik antara berbagai pihak, sesuai jenis project yang ingin diwujudkan.




Mendesain project outdoor juga menjadi pengalaman yang menarik. Kemampuan bekerjasama dengan tukang las yang lebih ahli dibidang konstruksi memberikan ilmu baru. Bagaimana saling mempercayai satu sama lain dan pertimbangan-pertimbangan yang tentunya mendukung hasil terwujudnya aplikasi desain yang sesuai dengan konsep yang disetujui klien. Saya sendiri sering ikut mengawasi ketika pekerjaan harus diselesaikan di tempat klien, agar tidak terjadi komunikasi yang tidak nyambung antara tukang dengan klien. Pengerjaan ditempat keramaian yang padat disekitar tempat klien juga harus dikonfirmasikan, minimal minta izin karena dalam waktu tertentu akan mengganggu aktifitas yang lain.

Desain itu untuk kebaikan, maka bekerjasama yang baik adalah kunci bekerja di dunia desain :)

Kompetisi Sebagai Pembelajaran Terbaik Untuk Evaluasi


Menang kalah itu sudah biasa, menjadi untuk tetap semangat berkompetisi menjadi dasar awal yang mendasari sebuah usaha yang mandiri. Tulisan ini adalah sharing, karena berbagi pengalaman sama halnya berbagi ilmu. Setiap tindakan berbagi memiliki esensi yang berbeda, ada yang suka dan sebaliknya, karena ini adalah persepsi subyektif. Dan tentunya akan menjadi persepsi yang obyektif ketika lebih dari 1 pengalaman orang yang sejenis dipadukan. Seperti halnya buku yang dihasilkan dari beberapa hasil penelitian :)

Mengikuti kompetisi sebenarnya hal yang menarik, dimana banyak elemen yang mesti digabungkan. Seperti misalnya: harus ada semangat untuk mengambil keputusan untuk ikut kompetisi, kedua yakin memiliki kemampuan yang sama atau lebih unggul dari yang lain, ketiga gak mikirin hadiah sebelum mengerjakan materi kompetisi, kerjakan semampu kekuatan dan energi yang kita miliki, berdoa sebelum mengerjakan agar hasilnya lebih dari yang diharapkan, dan terima setiap hasil kompetisi dengan senang hati :)

Seperti pepatah mengatakan, untuk bisa berlari dengan kencang, pasti pernah mengalami jatuh bangun beberapa kali. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan, hal ini akan menjadi perasaan yang biasa saja. Namun setiap kekalahan ada hal yang mestinya harus dipelajari. Kekalahan merupakan tanda dimana ada yang keliru dengan apa yang dilakukan dalam kompetisi kemarin. Disini perlu penyadaran mengapa saya kalah, dan apa yang harus saya perbaiki :)

Akhirnya beberapa kali ikut kompetisi paling tidak untuk sementara bisa masuk finalis, walaupun beberapa kali sempat lolos juara. Kuncinya adalah jangan takut kalah sebelum pertempur, jangan ragu kalau ingin menang, dan semua yang dilakukan pasti ada hasilnya :) Minimal bisa membuat pondasi untuk mental menjadi pemimpin, memimpin diri sendiri untuk tetap fokus pada segala sesuatu yang dibangun. Apakah itu usaha, maupun karir.